Langsung ke konten
Logo MPO1212 - Klub Dua Belas Indonesia

Gurindam Dua Belas: Nasihat Berikut dari Raja Ali Haji

Dipublikasikan · Diperbarui · oleh Redaksi Klub MPO1212

Buku tua Gurindam Dua Belas di rak perpustakaan Klub MPO1212

Permata Sastra Melayu yang Berpasal Dua Belas

Di rak perpustakaan Klub Dua Belas tersimpan satu buku tua yang lebih sering dipinjam daripada yang lain: Gurindam Dua Belas, karya Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat yang diperkirakan diselesaikan pada pertengahan abad kesembilan belas. Kumpulan nasihat berirama ini menata hidup baik dan buruk dalam dua belas pasal — jumlah yang, tentu saja, membuat klub kami merasa kerabat dekatnya. Halaman ini mengikhtisarkan isinya dan menjelaskan kenapa karya ini menjadi bacaan Kamis aula kami.

Sedikit tentang bentuknya: gurindam adalah puisi Melayu berkata dua larik berirama akhir sama, dengan isi bersyarat — "jika begitu, maka begini". Bentuk ini membuat nasihatnya mudah diingat: seperti pepatah yang berima, ia menempel sendiri di ingatan. Raja Ali Haji menyusunnya untuk keperluan yang sangat praktis — pegangan hidup pembaca muda kerajaan — dan justru sisi praktis itulah yang membuatnya tetap terasa segar hampir dua abad kemudian.

Isi yang Paling Sering Dibaca di Aula

Setiap Kamis, anggota kami membacakan satu pasal secara bergiliran — tradisi yang lahir dari sumbangan buku tua di zaman aula, seperti diceritakan di sejarah klub. Pasal yang paling sering diminta adalah pasal kelima tentang pemurah dan kikir, pasal kedua belas tentang adat orang berumah tangga, dan bagian awal yang menegaskan bahwa hidup bernilai bila berguna. Saat dibacakan di sisi meja dua belas, larik-lariknya selalu memicu diskusi sepuluh menit — takdir yang mungkin tidak pernah dibayangkan penyairnya.

Menariknya, yang paling dipegang anggota bukan larik tentang kekayaan, melainkan nasihat tentang batas diri: mengendalikan hawa nafsu, menjaga lidah, dan menahan amarah. Nilai-nilai ini persis beririsan dengan pagar keanggotaan kami — tulis batas sebelum mulai, tutup catatan sebelum lelah, hormati sesama penghuni aula. Sastra berumur dua abad ternyata masih bisa menjadi buku saku disiplin untuk komunitas permainan modern; bukti bahwa nasihat yang baik tidak kedaluwarsa, hanya berganti sampul.

Raja Ali Haji, Penulis yang Memahami Komunitas

Penulisnya sendiri layak dikenal. Raja Ali Haji (1808-1873) adalah pangeran, sastrawan, dan penyusun tata bahasa Melayu yang karyanya menjadikan bahasa persatuan nusantara lebih teratur. Ia menulis di tengah masyarakat kepulauan yang ramai dagang — komunitas yang, seperti klub mana pun, butuh aturan agar tetap rukun. Gurindamnya lahir dari pengamatan langsung atas kehidupan bermasyarakat: kebiasaan orang berduit, kebiasaan orang berilmu, kebiasaan orang berkuasa. Semua dibedah tanpa kerasukan menggurui, dengan irama yang membuat kritik terasa seperti lagu.

Bagi klub kami, figur Raja Ali Haji mengingatkan satu hal: komunitas yang baik dirawat tulisan. Ia menyusun kamus dan tata bahasa agar percakapan antarpulau bisa berjalan; kami menyusun piagam dan buku jaga agar aula bisa berjalan. Bentuknya berbeda, fungsinya serupa — menulis agar yang belum lahir tetap bisa membaca kesepakatan yang tidak sempat mereka hadiri.

Membaca Gurindam di Zaman Layar

Ada yang bertanya: apa gunanya membaca sastra tua di zaman notifikasi? Jawaban aula kami: justru karena notifikasi. Layar membuat nasihat datang cepat dan banyak, tetapi jarang menempel; gurindam bekerja sebaliknya — lambat masuk, lama tinggal. Dua belas pasal yang dibaca setahun penuh (satu pasal tiap Kamis) melekat lebih dalam daripada ribuan kata motivasi yang lewat dalam sehari. Itulah sebabnya tradisi ini bertahan bahkan di aplikasi mpo1212: notifikasi Kamis pagi bukan mengingatkan sesi, melainkan pasal minggu itu.

Bagi anggota baru, tradisi ini sering jadi kejutan menyenangkan. Mereka datang mencari permainan dan menemukan dirinya mendiskusikan larik Melayu dengan karyawan lembur dan pemilik warung — percakapan yang tidak akan terjadi di meja mana pun di luar sana. Refleksi tentang daya pikat perkumpulan dibahas di klub adalah; di sini cukup dicatat bahwa sastra memang salah satu perekat tertua dunia.

Warisan yang Mengajar Berhenti

Bila harus memilih satu pesan paling penting untuk pembaca halaman ini, redaksi kami akan memilih nasihat tentang batas: tahu kapan berhenti adalah bagian dari tahu cara hidup. Di meja permainan maupun di urusan sehari-hari, keahlian bertahan bukan milik yang paling cepat, melainkan yang paling tahu kapan menutup hari. Gurindam menuliskannya dengan indah; aula kami menjalankannya dengan lonceng dua belas.

Buku tua itu kini tersedia dalam berbagai edisi cetak ulang dan naskah digital — dan bila ingin membacanya bersama kami, cukup hadir di Kamis mana pun. Gerbangnya tetap daftar mpo1212; pasalnya menyusul bergilir, satu Kamis demi satu Kamis, persis seperti yang disusun hampir dua abad silam.

Pertanyaan Umum (FAQ)

?Apa itu Gurindam Dua Belas?

Karya sastra Melayu karya Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat (pertengahan abad ke-19) yang menata nasihat hidup dalam dua belas pasal berirama. Bentuknya dua larik bersajak akhir dengan isi bersyarat sehingga mudah diingat.

?Kenapa Klub MPO1212 membacanya setiap Kamis?

Tradisi ini lahir dari sumbangan buku tua di zaman aula. Satu pasal dibacakan bergiliran tiap Kamis dan mengingatkan nilai yang sejalan dengan tata tertib klub: batas diri, menjaga lidah, dan mengendalikan hawa nafsu.

?Siapa Raja Ali Haji?

Pangeran, sastrawan, dan penyusun tata bahasa Melayu (1808-1873) dari Pulau Penyengat. Karyanya membantu menata bahasa persatuan nusantara; Gurindam Dua Belas adalah karyanya yang paling dikenal.

?Apakah membaca gurindam wajib bagi anggota?

Tidak wajib — tradisi Kamis terbuka untuk diikuti atau dilewati. Namun mayoritas anggota menikmatinya karena nasihatnya praktis dan diskusinya hangat.